Minggu, 21 Maret 2010

Sejarah Singkat Jerpaya


22 Tahun yang lalu tepatnya di tahun 1988, Fauzi Ahmad beriktikaf pada bulan Ramadhan di masjid kawasan gunung Gede Pangrango di malam yang ke-27 jam 02.15 WIB (dini hari), ketika itu sedang tertidur setelah selesai tahajud dan membaca Al Qur'an beliau didatangi seorang kakek-kakek tua kurang lebih berumur 97 tahun berpakaian compang-camping memberikan hadiah sebatang pohon jeruk yang tingginya sejengkal tangan manusia dewasa. Dalam hati Fauzi pun bertanya–tanya, "Wong malam - malam kok ngasih pohon jeruk" pikimya. Kakek tua tadi berkata lagi, '"Mudah-mudahan pohon ini membawa barokah buat kamu, kalau pohon ini hidup jangan lupa bantu anak yatim piatu dan para fakir miskin serta janda-janda dan jompo yang miskin" begitu ucapnya, "Dan kalau kamu melihat pohon ini hidup dan aneh maka jangan sombong dan takabur ya!" Fauzi Ahmad yang lebih dikenal di perfilman dengan panggilan Bram inipun mengangguk pasti. Setelah orang tua tadi berpesan, ia pun berlalu lenyap dari pandangan mata kemudian ditelan gelapya malam, Fauzi pun terbengong- bengong penuh tanya.


"Ini pohon apa sih? Dan, untuk apa sih? Bagaimana pula cara merawatnya?" Dan beribu-ribu pertanyaan pun muncul dalam hatinya dan tak terjawab " Akunya begitu. Karena latar belakang beliau adalah artis dan sedikitpun tidak tertarik dengan tanaman, maka tanaman tersebut ditaruh begitu saja di sekitar masjid, bahkan sempat terbersit akan dibuang. Akhir ramadhan saat akan pulang dia dapati tanaman tersebut sudah putus dimakan kambing, dibawalah tanaman tersebut pulang dan ditanam di pinggir kolam itupun kondisinya hampir mati.

Setelah kurang lebih beberapa waktu lamanya sepulang dari dakwah di luar negeri, dengan tidak disengaja (di suatu pagi yang cerah ba'da shalat sunnat Dhuha) Fauzi melihat ada hal ganjil pada tanaman jeruk yang pernah ditanamnya itu. Tinggi pohonnya baru kira-kira 70 cm dan salah satu cabangnya ada yang masuk ke kolam (karena memang tanpa sengaja di tanam di pinggir kolam). Curiga kalau-kalau ada anak yang nakal kepada pohon tadi, maka diangkatnya batang yang terjuntai ke kolam. Apa yang terjadi? Masya Allah tanaman tadi ternyata telah berbuah dan saking beratnya hingga batangnya terjuntai masuk ke kolam. Begitu diangkatnya, dilihatnya, dan disentuhnya, tanaman ini berbuah pepaya dengan beratnya 11 kg. Fauzi pun bersujud syukur. Karena selama hidupnya belum pernah melihat pohon jeruk buahnya pepaya.

Setelah kejadian itu Fauzi pun teringat akan pesan dari kakek tua yang pernah memberinya tanaman ini supaya jangan sombong dan riya, maka semenjak itu Fauzi pun memilih diam seribu bahasa tak bercerita kepada siapapun. Takut jadi riya dan sombong, katanya. Beliau berusaha mencari kakek tua itu di tempat di mana dia mendapatkan pohon tersebut tapi tidak bertemu, akhirnya beliau berpuasa selama 7 hari, sholat minta kepada Allah agar dipertemukan dengan kakek tua tersebut. Akhirnya keinginan Fauzi Ahmad dikabulkan oleh Allah walaupun bertemu hanya dalam mimpi. Dari mimpi tersebut kakek tua tersebut mengajari bagaimana cara mengembangbiakkannya secara gamblang, dan memberitahu sampai detil termasuk bahwa tanaman ini adalah tanaman obat yang InsyaAllah dapat menyembuhkan macam-macam penyakit.


Singkat cerita, akhirnya pohon yang sempat tak diacuhkan itu pun kini telah menjadi sahabat dan kariernya yang disusun rapi dan apik, maklum sajalah walaupun sekarang telah menjadi seorang ustadz / mubaligh / Da'i beliau tak suka pada jenis tanam-tanaman (maklum, mantan artis). Namun semenjak pohon jeruk pepaya menjadi tanaman heboh dan menakjubkan dengan segala keunikan-keunikannya, sayapun jadi mencintai semua jenis tanaman bahkan mungkin melebihi dari tukang-tukang kebun maupun penjual tanaman hias atau petani, akunya. Sampai-sampai kini di rumahnya pun penuh dengan bermacam-macam tanaman dan dirawatnya dengan seksama.


Nah, setelah kejadian itulah akhirnya tanaman itu pun di tanam di rumahnya di Cianjur di desa Sukamanah Cugenang Cianjur. Dan beliaupun sibuk dalam kegiatan - kegiatan dakwahnya sampai ke mancanegara, lupa kalau dulu di kampungnya pernah menanam pohon jeruk pepaya yang kini membuatnya cukup populer di Indone­sia, bahkan melalui tanaman jerpaya namanya lebih harum di luar negeri. Ini terbukti dari tamu-tamu asing yang datang ke rumahnya, bahkan mengundangnya dalam seminar-seminar tanaman langka di luar negeri.

Ini adalah aset flora yang sangat berharga yang harus dilestarikan dan dikembangkan serta menjadi salah satu kebanggaan bangsa Indonesia, mudah-mudahan demikian, katanya.


Dari peneliti - peneliti yang datang dari berbagai instansi dan khalayak ramai, terutama dari LIPI, termasuk juga dari penelitian / silaturahmi dari pihak Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan seluruh Kebun Raya di Indonesia sudah mengetahuinya mengatakan bahwa pohon ini unik dan langka serta menjadi salah satu obat tradisional " katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar